Selasa, 03 April 2018

CERITA SEDARAH TERPISAHKAN OLEH ADAT


tepat tengah malam, raungan tangis itu terdengar sayup-sayup di telinga, dengan jelas arah mana suara itu terdengar, di dalam kamar yang tidak lah cukup untuk menampung banyak orang sehingga, ketika seorang paruh baya berteriak dengan tegas dengan nada perintah, saat itu pula terhuyung-huyunglah tuti datang membawa sebaskom air dan kain batik yang tidak baru persisnya, dari luar pintu untuk segera memberikan kepada wanita yang cukup disegani di kampung itu.


di luar kamar teersebut, beberapa orang mulai bebisik-bisik dan mengeluarkan segala intuisi dan ramalan, meski mereka bukanlah ahli ramal oleh karena kejadian yang baru saja terjadi dan cukup mengemparkan kampung kecil di pesisir hutan belantara, yang tak begitu ramai karena hanya dihuni oleh beberapa kepala keluarga saja.

adalah sebuah berita bahagia atau mungkin kutukan bagi sebagian orang, namun tetaplah sebuah cemas bagi bujang meratapi nasib sang mawar, dilihatnya desah napas yang memburu terkadang melengking dalam serak napas di tempat tidur berukuran 2 x 2,5 meter, beralaskan kasur kapuk kapas yang tidak jelas tebalnya di empat sisi nya.

semakin memburu napas mawar, semakin keras perintah sang perempuan paruh baya teresebut kepada nya, tekan...tarik napas....tekan  tarik napas, sedikit lagi tuturnya, namun bukanlah nikmat yang di rasa oleh mawar namun setengah kiamat dunia bak bumi yang terbelah oleh gempa bumi, tercabik-cabik di kedua pangkal paha atas nya.

melihat situasi itu, bujang tak kuasa menahan tangis dan kelinglungan apa yang harus di perbuat, kadang di remas-remasnya kepala istrinya, dan sesekali mengusap pipi mawar, namun tetap mawar memberontak sambil histeris berteriak......sakit....tolong....sakit....

hal yang lumrah bagi kaum wanita untuk merasakan penderitaan seperti ini, karena inilah kodratnya, namun juga hal ini menjadi kutukan bagi mereka yang terlanjur tersiksa dan kurang beruntung akibat nasib dan korban paradigma, bias gender yang tidak adil karena di cap lemah dan hanya sebatas objek dari sebuah kebijakan dan pandangan umum kaum lelaki.

tolong...... demikian erangan mawar kepada bujang sang lelaki idaman, namun bujang masih juga tidak berbuat apa-apa, padahal oleh karena perbuatan bujanglah, hal ini bisa terjadi, apa kata dunia "pria hanya tahu enaknya namun wanita yang menanggung akibatnya" demikianlah bujang berupaya namun putus asa karena mereka hidup di kampung  kecil jauh dari kota.

akhirnya, setelah perjuangan beberapa menit hingga 2 jam hampir di gapai, keluarlah sesosok bayi kecil berkelamin laki-laki, dengan sumringah wajah wanita setengah baya melihatnya, namun mawar hampir pingsan dibuatnya, belum selesai penderitaannya, aduh....sakit demikian erangan itu keluar dari mulutnya, kagetlah sang martawati demikian wanita setengah baya tersebut dikenal di kalangan penduduk.

"cepat ternyata kembar...." demikian teriak Martawati kepada tuti sang asisten, "kau urus bayi yang sudah keluar ini, dan bungkus dengan kain sambil bersihkan darah dan cuci bersih", demikian perintah nya, namun sepatah kata tidak berbalas dari mulut sang asisten yang tidak tamat sekolah dasar itu.

selang beberapa waktu akhirnya, keluarlah bayi munggil yang kedua namun tidak disangka dan diduga ternyata lahirlah gadis kecil, yang jelas berbeda dengan saudaranya yang sudah keluar duluan, oleh karena berita ini, semua orang sekampung berduyung-duyung ingin melihat kejadian yang tidak biasa ini, hendak mereka menerobos kamar itu, namun tidak lah muat, maka akhirnya berdiskusilah mereka di sisi luar kamar, belum termasuk yang menunggu di tangga rumah.

para tetua adat pun segera mengambil sikap, dan tabulah yang jadi pertimbangannya, hal ini belum pernah terjadi dan tidak boleh terjadi seharusnya, namun apa daya nasi sudah menjadi bubur, maka sangkal adat harus di buat, dan mereka harus di pisahkan sehingga diharapkan tidak terjadi mala petaka di kemudian hari.

konon dipercaya bahwa mereka jika tidak di pisahkan akan menjadi suami istri dan menjadi bela bencana bukan untuk orang lain, minimal untuk mereka sendiri, oleh karena itu para tetua mencari wangsit dan petuah yang benar, agar nestapa itu tidak jatuh.

adat di jatuh pekara di angkat, pekara diangkat sangksi di terima, demikian akhirnya saudara sedarah tersebut harus dipisah, karena mitos dan atur agar selamat, demikian lah akhirnya bujang menerima putus adat.     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar