Kamis, 05 April 2018

Kejar Daku Kau ku Tangkap (bagian 1)

hubungan kasih asmara keduanya terjalin bagaikan miniseri dalam kisah cinta Shakespear yang beradu akting bagaikan teledrama spanyol yang bisa di nanti-nanti oleh kaum Hawa di sore hari dengan judul yang biasa saja, mungkin lebih lebay utuk judul film Korea.

"Surel tak terbalas"

Kejar Daku Kau Ku Tangkap (bagian 1)


Sore hari itu dua remaja terdengar beradu logika dan tampak pula mimik wajah tegang, namun sedikit berusaha menenangkan lawan bicara tentang arti argumen yang coba di sampaikan, sehingga berharap jangan salah ucap tentunya.

Dika dan teman perempuannya Ayu, memang baru saja mengenal dan saat itu mereka barulah berumur 15 tahun, memang keduanya duduk di kelas yang berbeda namun masih satu sekolah pula, terbayang masa-masa remaja pembaca ketika zaman masih dibilang cinta monyet, tapi apakah di zaman now ada cinta monyet, bagi ku mungkin sudah punah.... tragis.

hubungan keduanya baru sebatas saling menyapa dan Dika telah mencoba sekali mengirimkan surat elektronik via aplikasi internet, memang untuk menyatakan langsung via telpon tidak mungkin rasanya, apalagi membayangkan harus menyatakanya langsung di hadapan lawan jenisnya.

namun Dika hari itu dengan nekat mendatangi Ayu, untuk menanyakan kabar berita langsung kepadanya, bukan senyum yang di dapat namun wajah tak bersabahat dan cenderung menghindar, apa gerangan Dika was was dan mengerutu dalam hati, rasanya tersiksa dan bagaikan burung pungguk demikian nasib ku, lirih Dika dalam hati.

tepat siang jam 11 lewat 15 menit, dan pada waktu itu saatnya jam istirahat bagi kelas di sekolah menenggah atas di ibu kota Kecamatan, sebagian orang berlari menuju kantin, agar tidak kehabisan stok makanan ringan, namun Dika malah berjalan ke arah berlawanan, tentunya untuk mencari Ayu.

selang beberapa blok ruang kelas, akhirnya berpapasan mereka, dengan sigap karena ini waktu yang tepat pikirnya, maka Dika langsung menarik tangan Ayu kedalam ruang kelas, namun Ayu coba memberontak dengan cara mengibaskan tangannya, erat pula Dika mengengam tangan mungil itu bagaikan gengaman kera.

saat itulah kedua nya saling bersitegang, namun Ayu tetap merasa ia punya hak dan belum saat nya untuk menjawab segala intimidasi itu, buka Dika namanya jika dia belum mendengarkan langsung dari mulut karena sudah Nafsu yang di ubun-ubun, dan belum ada kabar berita nya.

perlakuan yang cenderung kasar itu, ternyata tidak di sadari oleh Dika, ia telah membuat rasa antipati dari pada yang diharapkan, karena layangan telapak tangan pula yang di dapatnya, dan terlepas gengaman itu maka larilah Ayu dengan lekas ke arah pintu ruang kelas.

Dika yang terpaku dan termangu bagaikan tempoyak hatinya akibat tamparan itu, malah menyimpan dendam yang tak dapat di ungkapkan saat itu.

bersambung....          

  

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar