Selasa, 03 April 2018

Perkawinan yang tak direstui

Perkawinan yang tak direstui (bagian 1)

jarak keduanya tidak lah begitu jauh, sebatang rokok dihisap pun tak habis, emang demikianlah hubungan mereka terjalin, karena dari kecil pula mereka berhubungan, semenjak 20 tahun yang lalu mereka sudah bersenda gurau, dan rentang umur mereka pun hanya jari kelingking, jari manis dan jari tengah saja yang berdiri, yang lain menggulung seperti OK Oce nya Gubernur DKI Sandiaga Uno yang terkenal itu.


hidup sudah bagaikan milik berdua namun kadang acuh muncul karena lupa, menangis karena di tinggal, berteriak karena mencari, menyuap dikala berbagi, itu lah potret hidup Damar dan Megi di kampung batas negeri.

keduanya sudah terkenal dekat, sekampung juga tahu dan tak soal melihat tawa dan polah mereka, termasuk bagi Agil dan Jantika, pul hadir si Endut, demikian mereka menamainya.

tapi rasa memang tidak bisa di bohongi, demikian pula umur bagaikan matahari yang mulai terasa terik diatas kepala, bagi anak manusia yang berbeda jenis kelamin, adalah normal hormon itu mulai merangsang pertumbuhan yang sudah dianggap puber, jangan sampai ke puber kedua pula bujang lapok orang mengelarnya.

Damar menyatakan rasa itu dan tak diabaikan oleh Megi, bagaikan gayung bersambut akhirnya rasa itu diterima, bagaikan sapasang remaja yang baru mengenal, demikian pula tumbuhnya  gelora asmara membutakan hubungan mereka yang sedari kecil dan lebih 20 tahun bersama, Damar menyatakan rasa itu lewat puisi cinta dalam secarik kertas, dan di akhiran surat cinta itu di tuliskankan dengan jelas "yang slalu menjagamu Damar".

sejak saat itu resmilah mereka menjadi sepasang kekasih, dan ketiga temannya sebenarnya sudah curiga dengan kelakuan kedua temannya, karena memang mereka masih menyembunyikan jalinan kasih itu, namun tidak bagi ketiga rekan yang sudah mengenal seluk beluk dan tutur kata kapan bohong dan kapan serius.

benar pula maksud Damar dan Megi, mereke menyadari status dan pertalian keluarga yang tidak boleh mereka kesampingkan, dan benar pula ketika mereka menyampaikan hasrat itu, bukan restu yang di dapat namun tamparan dipipi kiri Damar supaya sadar siapa dirinya, dan kenapa sang ayah melarangnya.

ayah Megi adalah musuh lama bagi ayah Damar, dan oleh karena ibu Damarlah makanya permusuhan keluarga ini di mulai, namun karena mereka juga bukan orang lain jika di runut dalam silsilah keluarga, oleh karena itu tidak di perpanjang lebar urusan, namun hal yang tidak di inginkan ternyata telah terjadi dengan harapan sahabat itu tidak akan menimbulkan rasa cinta, karena baik Damar maupun Megi sudah mengetahui sedari kecil bahwa Damar telah di jodohkan dengan anak seorang bangsawan kaya raya di kampung sebelah, dan Damar harus menikahinya.

tapi rasa tidak bisa berbohong, dan Damar sudah dewasa dan berhak untuk menentukan sikapnya, apakah di jaman ini masih dipakai perjodohan yang ditetapkan beberapa tahun lampau dimana mereka masih ingusan belum mengerti tentang perkawinan dan perjodohan.

Damar dengan teguh menyampaikan pendapatnya, namun bagaikan batu karang yang di hemapas lautan setiap harinya tak juga terkikis, ayah Damar tetap pada pendiriannya.

bersambung....
   

Tidak ada komentar:

Posting Komentar